Akhirnya petugas PJU Jakbar datang juga pada Jumat 24 Februari 2012 kira-kira pk 14:15 WIB menjauhkan kabel yang menempel di tembok kiri rumah keluarga ini.
Terima kasih, PJU Jakbar.
Penerangan Jalan Umum Jakarta Barat
Minggu, 25 Maret 2012
Senin, 20 Februari 2012
Penerangan Jalan Umum Jakarta Barat: Lamban Bekerja
Rabu sore, tgl 11 Januari 2012, Bpk Situmorang dan rekan kerjanya, juga seorang pria, meninggikan kabel milik PJU yang kendur akibat hujan lebat dan angin kencang yang terjadi pada hari Jumat 28 Oktober 2011. Kabel itu terentang dari tiang listrik yang berdiri di pojok / tikungan Jl. Cendrawasih Raya dan Jl. Cendrawasih VI dengan tiang listrik berikutnya yang berdiri di Jl. Cendrawasih VI. Artinya kabel tersebut terentang di samping kiri rumah satu keluarga karena rumah keluarga tsb menghadap Jl. Cendrawasih Raya.
Namun setelah kabel tsb ditinggikan bersama dengan kabel lainnya, kabel-kabel tersebut malah menempel pada tembok rumah keluarga tsb. Hal ini sangat mengkuatirkan keluarga yang tinggal di rumah tsb. Jika dilihat dari pekarangan samping rumah mereka, kabel tsb bergesek dengan tembok rumah. Tembok merupakan penghantar listrik yang baik. Jika lama-kelamaan kabel tersebut luka akibat gesekan yang sering terjadi karena angin sering bertiup, tentu keluarga yang tinggal di rumah tsb terancam sengatan listrik. Kabel yang besar dan panjang pastilah sengatannya mematikan dibandingkan dengan sengatan dari kabel charger handphone.
Jika itu sampai terjadi apakah Penerangan Jalan Umum Jakarta Barat juga PLN bertanggung jawab? PLN (Perusahaan Listrik Negara) juga tersangkut karena warga awam tidak dapat membedakan mana kabel PLN, mana kabel PJU, sementara kedua instansi itu hanya mempingpong warga bila ada keluhan warga atas kabel-kabel yang membahayakan tersebut. Hal ini dialami sendiri oleh keluarga ini. Mereka melaporkan pertama kali pada PLN (lewat Call Centre 123). Ketika beberapa petugas PLN Kalideres (lupa menanyakan nama mereka) datang ke lokasi, dengan pongahnya mereka berkata, "ah, ini bukan kabel kami, ini kabel PJU. Silakan lapor PJU."
Seharusnya ada koordinasi di antara kedua instansi tersebut, bukannya mempingpong warga. Harusnya petugas PLN Kalideres waktu itu menjawab: "karena ini kabel PJU, maka kami akan berkoordinasi dengan mereka." Kalau mereka memang tidak mau berkoordinasi (hal ini memperlihatkan rasa kemanusiaan yang rendah karena berurusan dengan listrik seharusnya hati-hati, kesalahan fatal dapat mengakibatkan kematian manusia), seharusnya mereka membedakan kabel supaya dapat dikenali dengan mudah oleh warga awam. Mungkin diberi warna yang berbeda. Jadi warga tahu harus melapor kepada siapa, PJU atau PLN.
Habis pulsa telepon, waktu dan energi, juga risiko ancaman keselamatan semakin besar akibat penanganan yang memakan waktu lama karena harus menunggu instansi terkait, pada akhirnya ternyata telah salah menghubungi instansi. Makin habislah pulsa telepon, waktu, energi dan makin besarlah risiko ancaman keselamatan karena harus mengulang lagi menghubungi instansi yang seharusnya, karena instansi yang telah dihubungi sebelumnya tidak mau tahu dan tidak ada koordinasi di antara mereka.
KRONOLOGIS PELAPORAN
Kamis pagi 12 Januari 2012, salah seorang anggota keluarga menelepon Penerangan Jalan Umum Jakarta Barat di no telepon: 7071 4611. Operator telepon hanya berkata, "baiklah akan disampaikan pada Bpk Situmorang"
Jumat 20 Januari 2012 anggota keluarga tsb melapor lagi karena tidak ada petugas PJU yang datang untuk membereskan kabel tsb. Operator telepon, Pak Cata (atau Pak Tata?, kurang jelas petugas tersebut menyebut namanya) hanya berkata sama seperti operator sebelumnya.
Selasa 24 Januari 2012 anggota keluarga melapor lagi karena kabel masih juga belum dibereskan. Operator telepon saat itu Pak Otip, hanya berkata sama seperti operator sebelumnya.
Senin 30 Januari 2012 anggota keluarga tsb melapor lagi. Operator telepon saat itu Pak Imam. Anggota keluarga itu ingin bicara dengan atasan Pak Imam, lalu disambungkan dengan Pak Tata. Menurut Pak Tata memang hanya Pak Situmorang yang bertanggung jawab untuk daerah Cengkareng.
Senin 6 Februari 2012 karena tidak ada petugas yang datang, maka kembali anggota keluarga menelepon Penerangan Jalan Umum. Operator telepon saat itu Pak Tata. Jawaban Pak Tata sama seperti sebelumnya, "akan disampaikan pada Pak Situmorang"
Selasa 14 Februari 2012 anggota keluarga menelepon PJU kembali karena posisi kabel yang masih sama.Operator telepon saat itu Pak Tata dan jawabannya juga sama "nanti deh dibilangin lagi Pak Situmorangnya"
Selasa 21 Februari 2012 anggota keluarga menelepon lagi. Operator telepon Pak Tata hanya bisa berkata sama seperti sebelumnya. Ketika ditanya mengapa Pak Situmorang sebagai anakbuah tidak melaksanakan tugas. Jawaban Pak Tata adalah "Pak Alex Situmorang bukan anak buah ybs, melainkan manager dari sebuah PT yang menjadi rekanan PJU". Anggota keluarga meminta kepada Pak Tata supaya melaporkan pada atasannya cara kerja Pak Situmorang ini, kalau perlu dievaluasi, jika memang kinerjanya tidak baik, sebaiknya PJU mengganti rekanan.
Kini anggota keluarga menunggu tindak lanjut dari Penerangan Jalan Umum Jakarta Barat untuk membereskan posisi kabel yang menempel di tembok rumah keluarga, bagian kiri, yang dapat membahayakan keluarga tersebut.
Namun setelah kabel tsb ditinggikan bersama dengan kabel lainnya, kabel-kabel tersebut malah menempel pada tembok rumah keluarga tsb. Hal ini sangat mengkuatirkan keluarga yang tinggal di rumah tsb. Jika dilihat dari pekarangan samping rumah mereka, kabel tsb bergesek dengan tembok rumah. Tembok merupakan penghantar listrik yang baik. Jika lama-kelamaan kabel tersebut luka akibat gesekan yang sering terjadi karena angin sering bertiup, tentu keluarga yang tinggal di rumah tsb terancam sengatan listrik. Kabel yang besar dan panjang pastilah sengatannya mematikan dibandingkan dengan sengatan dari kabel charger handphone.
Jika itu sampai terjadi apakah Penerangan Jalan Umum Jakarta Barat juga PLN bertanggung jawab? PLN (Perusahaan Listrik Negara) juga tersangkut karena warga awam tidak dapat membedakan mana kabel PLN, mana kabel PJU, sementara kedua instansi itu hanya mempingpong warga bila ada keluhan warga atas kabel-kabel yang membahayakan tersebut. Hal ini dialami sendiri oleh keluarga ini. Mereka melaporkan pertama kali pada PLN (lewat Call Centre 123). Ketika beberapa petugas PLN Kalideres (lupa menanyakan nama mereka) datang ke lokasi, dengan pongahnya mereka berkata, "ah, ini bukan kabel kami, ini kabel PJU. Silakan lapor PJU."
Seharusnya ada koordinasi di antara kedua instansi tersebut, bukannya mempingpong warga. Harusnya petugas PLN Kalideres waktu itu menjawab: "karena ini kabel PJU, maka kami akan berkoordinasi dengan mereka." Kalau mereka memang tidak mau berkoordinasi (hal ini memperlihatkan rasa kemanusiaan yang rendah karena berurusan dengan listrik seharusnya hati-hati, kesalahan fatal dapat mengakibatkan kematian manusia), seharusnya mereka membedakan kabel supaya dapat dikenali dengan mudah oleh warga awam. Mungkin diberi warna yang berbeda. Jadi warga tahu harus melapor kepada siapa, PJU atau PLN.
Habis pulsa telepon, waktu dan energi, juga risiko ancaman keselamatan semakin besar akibat penanganan yang memakan waktu lama karena harus menunggu instansi terkait, pada akhirnya ternyata telah salah menghubungi instansi. Makin habislah pulsa telepon, waktu, energi dan makin besarlah risiko ancaman keselamatan karena harus mengulang lagi menghubungi instansi yang seharusnya, karena instansi yang telah dihubungi sebelumnya tidak mau tahu dan tidak ada koordinasi di antara mereka.
KRONOLOGIS PELAPORAN
Kamis pagi 12 Januari 2012, salah seorang anggota keluarga menelepon Penerangan Jalan Umum Jakarta Barat di no telepon: 7071 4611. Operator telepon hanya berkata, "baiklah akan disampaikan pada Bpk Situmorang"
Jumat 20 Januari 2012 anggota keluarga tsb melapor lagi karena tidak ada petugas PJU yang datang untuk membereskan kabel tsb. Operator telepon, Pak Cata (atau Pak Tata?, kurang jelas petugas tersebut menyebut namanya) hanya berkata sama seperti operator sebelumnya.
Selasa 24 Januari 2012 anggota keluarga melapor lagi karena kabel masih juga belum dibereskan. Operator telepon saat itu Pak Otip, hanya berkata sama seperti operator sebelumnya.
Senin 30 Januari 2012 anggota keluarga tsb melapor lagi. Operator telepon saat itu Pak Imam. Anggota keluarga itu ingin bicara dengan atasan Pak Imam, lalu disambungkan dengan Pak Tata. Menurut Pak Tata memang hanya Pak Situmorang yang bertanggung jawab untuk daerah Cengkareng.
Senin 6 Februari 2012 karena tidak ada petugas yang datang, maka kembali anggota keluarga menelepon Penerangan Jalan Umum. Operator telepon saat itu Pak Tata. Jawaban Pak Tata sama seperti sebelumnya, "akan disampaikan pada Pak Situmorang"
Selasa 14 Februari 2012 anggota keluarga menelepon PJU kembali karena posisi kabel yang masih sama.Operator telepon saat itu Pak Tata dan jawabannya juga sama "nanti deh dibilangin lagi Pak Situmorangnya"
Selasa 21 Februari 2012 anggota keluarga menelepon lagi. Operator telepon Pak Tata hanya bisa berkata sama seperti sebelumnya. Ketika ditanya mengapa Pak Situmorang sebagai anakbuah tidak melaksanakan tugas. Jawaban Pak Tata adalah "Pak Alex Situmorang bukan anak buah ybs, melainkan manager dari sebuah PT yang menjadi rekanan PJU". Anggota keluarga meminta kepada Pak Tata supaya melaporkan pada atasannya cara kerja Pak Situmorang ini, kalau perlu dievaluasi, jika memang kinerjanya tidak baik, sebaiknya PJU mengganti rekanan.
Kini anggota keluarga menunggu tindak lanjut dari Penerangan Jalan Umum Jakarta Barat untuk membereskan posisi kabel yang menempel di tembok rumah keluarga, bagian kiri, yang dapat membahayakan keluarga tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)